Rabu, 03 Oktober 2012

Nursing Management & Leadership


MANAJEMEN KONFLIK
A.    Pendahuluan
            Setiap organisasi dimana manusia berinteraksi  mempunyai kemungkinan terjadi konflik. Institusi pelayanan kesehatan mempunyai banyak kelompok-kelompok yang berinteraksi: staf dengan staf, staf dengan pasien, staf dengan keluarga dan pengunjung, staf dengan dokter dan sebagainya. Interaksi-interaksi ini sering menimbulkan konflik-konflik.
            Konflik berhubungan dengan perasaan-perasaan termasuk perasaan diabaikan, dipandang sebagai mana adanya, diperlakukan seperti budak, tidak dihargai, diabaikan dan beban yang berlebihan. Hal ini berhubungan dengan kurangnya harga diri dan tidak dianggap berharga. Perasaan-perasaan individu menimbulkan suatu titik kemarahan. Hal ini mengakibatkan perilaku bermaksud jahat seperti berpikir, berdebat, atau berkelahi. Individu dapat membiarkan perasaan dan perilakunya dalam bekerja. Penurunan produktivitas, kadang-kadang dengan maksud tertentu, dan sengaja dibuat kesalahan-kesalahan.
B.     Penyebab Konflik
Perilaku Menentang : Menentang adalah ancaman terhadap suatu dialog yang rasional; ini mengganggu protocols penerimaan untuk interaksi orang dewasa. Murphy menggambarkan tiga versi penentang.
1.      Competitive Bomber, yang mudah menolak untuk bekerja.
2.      Martyred Accomodator, yang menggunakan kepatuhan palsu.
3.      Avoider, penentang ini menghindarkan kesepakatan dan partisipasi.
Stres : Konflik menimbulkan stres, ketakutan, kecemasan,dan perubahan dalam hubungan profesional. Stres dan konflik disebabkan karena kurangnya hubungan yang dilaksanakan antar manusia (dalam pelayanan institusi kesehatan: pasien, staf, keluarga pasien, dokter, dan sebagainya),termasuk harapan-harapan yang tidak terpenuhi.
Ruang : Ruangan yang sempit menyebabkan perawat harus bekerja dan berinteraksi secara konstan dengan anggota staf yang lain, yang dapat menyebabkan stres dan menimbulkan kepenatan dan pergantian.
Kewenangan dokter : Para dokter kadang-kadang melalaikan usulan-usulan para perawat, sehingga menyebabkan perawat marah dan terjadilah kegagalan dalam komunikasi.
Keyakinan, Nilai, dan Sasaran : Aktivitas atau persepsi-persepsi yang tidak cocok menimbulkan konflik. Hal ini karena adanya keyakinan, nilai, sasaran yang berbeda/ ketidakcocokan.
C.    Manajemen Konflik
Disiplin
Dalam menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah konflik, manajer perawat harus mengetahui dan mengerti tentang peraturan dan ketetapan organisasi.
Mempertimbangkan Tahap Kehidupan.
Konflik dapat dikelola dengan mendukung individu perawat dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hidupnya. Ada tiga tahap perkembangan yaitu, tahap dewasa muda; setengah baya; dan setelah umur 55 tahun.
Komunikasi
Penyelia mencegah konflik dengan komunikasi yang efektif  dan menggunakannya sebagai salah satu cara hidupnya. Komunikasi yang efektif dapat mencegah konflik.
Lingkungan Kualitas
Lingkungan kualitas telah digunakan untuk mengurangi stres dengan meningkatkan motivasi personel.
Latihan Keasertifan
            Sifat asertif dapat diajarkan melalui program-program pengembangan staf. Pada program ini perawat diajarkan bagaimana cara belajar melalui respons-respons yang baik. Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab daripada menyalahkan orang lain. Mereka belajar untuk mengatakan tidak, mereka belajar mengendalikan personel supaya memegang aturan. Kebanyakan perilaku asertif dapat dipelajari dengan studi kasus, bermain peran dan diskusi kelompok.
D.    Teknik atau Keterampilan Untuk Manajemen Konflik
Tujuan
Tujuan dari manajemen konflik adalah untuk memperluas pengertian tentang masalah-masalah. Dan meningkatkan sejumlah kemungkinan alternatif dalam pemecahan konflik. Tujuan-tujuan lainnya  termasuk keputusan-keputusan yang lebih baik dan kesepakatan terhadap keputusan yang telah dibuat.
Strategi
·         Menghindar, ini adalah suatu strategi yang memungkinkan kelompok konflik menjadi dingin.
·         Akomodasi, manajer perawat yang merupakan kelompok dari konflik dapat memungkinkan kelompok yang lain menghasilkan dan menempatkan  kebutuhan-kebutuhan lainnya terlebih dahulu. Hal ini dapat memelihara kerja sama secara harmonis dan mengembangkan bawahan dengan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan.
·         Kompetisi, seorang manajer perawat sebagai penyelia dapat menunjukkan kekuasaan posisinya pada bawahan. Hal ini dapat memperkuat aturan-aturan disiplin.
·         Kompromi, mengambil jalan tengah dapat memecahkan konflik.
·         Kerjasama, apabila kedua kelompok bekerja sama untuk memecahkan konflik, maka keduanya akan merasa senang. Kerja sama dapat dicapai dengan lebih baik melalui faktor-faktor kepemimpinan dan faktor-faktor organisasional daripada faktor-faktor pribadi.
Keterampilan Khusus
      Perawat dapat menggunakan keterampilan khusus untuk mencegah dan mengatasi konflik.
E.     Hasil Manajemen Konflik
Manajemen konflik menjaga meluasnya konflik, membuat kerja lebih produktif, dan dapat membuat konflik sebagai suatu kekuatan yang positif dan membangun.

Sumber :
Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan, Russel C Swanburg ; editor, Monica Ester – Jakarta : EGC, 2000.
Jones, R. A. P. (2007), Nursing Leadership and Management. Theories, Processes, and Practice. F. A. Davis. Philadephia.
            Tappen, R. M., Whitehead, D. K., Weiss, S. A. (2010), Essentials of Nursing Leadership and Management. 5th edition. F. A. Davis. Philadephia.