MANAJEMEN KONFLIK
A.
Pendahuluan
Setiap organisasi dimana manusia
berinteraksi mempunyai kemungkinan
terjadi konflik. Institusi pelayanan kesehatan mempunyai banyak
kelompok-kelompok yang berinteraksi: staf dengan staf, staf dengan pasien, staf
dengan keluarga dan pengunjung, staf dengan dokter dan sebagainya.
Interaksi-interaksi ini sering menimbulkan konflik-konflik.
Konflik berhubungan dengan
perasaan-perasaan termasuk perasaan diabaikan, dipandang sebagai mana adanya,
diperlakukan seperti budak, tidak dihargai, diabaikan dan beban yang
berlebihan. Hal ini berhubungan dengan kurangnya harga diri dan tidak dianggap
berharga. Perasaan-perasaan individu menimbulkan suatu titik kemarahan. Hal ini
mengakibatkan perilaku bermaksud jahat seperti berpikir, berdebat, atau
berkelahi. Individu dapat membiarkan perasaan dan perilakunya dalam bekerja. Penurunan
produktivitas, kadang-kadang dengan maksud tertentu, dan sengaja dibuat
kesalahan-kesalahan.
B.
Penyebab
Konflik
Perilaku Menentang : Menentang
adalah ancaman terhadap suatu dialog yang rasional; ini mengganggu protocols
penerimaan untuk interaksi orang dewasa. Murphy menggambarkan tiga versi
penentang.
1. Competitive Bomber,
yang mudah menolak untuk bekerja.
2. Martyred Accomodator, yang
menggunakan kepatuhan palsu.
3.
Avoider,
penentang
ini menghindarkan kesepakatan dan partisipasi.
Stres : Konflik
menimbulkan stres, ketakutan, kecemasan,dan perubahan dalam hubungan profesional.
Stres dan konflik disebabkan karena kurangnya hubungan yang dilaksanakan antar
manusia (dalam pelayanan institusi kesehatan: pasien, staf, keluarga pasien,
dokter, dan sebagainya),termasuk harapan-harapan yang tidak terpenuhi.
Ruang
: Ruangan yang sempit menyebabkan perawat harus bekerja dan berinteraksi secara
konstan dengan anggota staf yang lain, yang dapat menyebabkan stres dan
menimbulkan kepenatan dan pergantian.
Kewenangan dokter : Para
dokter kadang-kadang melalaikan usulan-usulan para perawat, sehingga
menyebabkan perawat marah dan terjadilah kegagalan dalam komunikasi.
Keyakinan, Nilai, dan Sasaran
: Aktivitas atau persepsi-persepsi yang tidak cocok menimbulkan konflik. Hal
ini karena adanya keyakinan, nilai, sasaran yang berbeda/ ketidakcocokan.
C.
Manajemen
Konflik
Disiplin
Dalam
menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah konflik, manajer perawat
harus mengetahui dan mengerti tentang peraturan dan ketetapan organisasi.
Mempertimbangkan Tahap Kehidupan.
Konflik
dapat dikelola dengan mendukung individu perawat dalam mencapai tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan dalam hidupnya. Ada tiga tahap perkembangan yaitu, tahap
dewasa muda; setengah baya; dan setelah umur 55 tahun.
Komunikasi
Penyelia
mencegah konflik dengan komunikasi yang efektif
dan menggunakannya sebagai salah satu cara hidupnya. Komunikasi yang
efektif dapat mencegah konflik.
Lingkungan Kualitas
Lingkungan
kualitas telah digunakan untuk mengurangi stres dengan meningkatkan motivasi
personel.
Latihan Keasertifan
Sifat
asertif dapat diajarkan melalui program-program pengembangan staf. Pada program
ini perawat diajarkan bagaimana cara belajar melalui respons-respons yang baik.
Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab daripada menyalahkan orang lain. Mereka
belajar untuk mengatakan tidak, mereka belajar mengendalikan personel supaya
memegang aturan. Kebanyakan perilaku asertif dapat dipelajari dengan studi
kasus, bermain peran dan diskusi kelompok.
D.
Teknik
atau Keterampilan Untuk Manajemen Konflik
Tujuan
Tujuan
dari manajemen konflik adalah untuk memperluas pengertian tentang
masalah-masalah. Dan meningkatkan sejumlah kemungkinan alternatif dalam
pemecahan konflik. Tujuan-tujuan lainnya
termasuk keputusan-keputusan yang lebih baik dan kesepakatan terhadap
keputusan yang telah dibuat.
Strategi
·
Menghindar, ini adalah suatu strategi
yang memungkinkan kelompok konflik menjadi dingin.
·
Akomodasi, manajer perawat yang
merupakan kelompok dari konflik dapat memungkinkan kelompok yang lain
menghasilkan dan menempatkan
kebutuhan-kebutuhan lainnya terlebih dahulu. Hal ini dapat memelihara
kerja sama secara harmonis dan mengembangkan bawahan dengan memungkinkan mereka
untuk membuat keputusan.
·
Kompetisi, seorang manajer perawat
sebagai penyelia dapat menunjukkan kekuasaan posisinya pada bawahan. Hal ini
dapat memperkuat aturan-aturan disiplin.
·
Kompromi, mengambil jalan tengah dapat
memecahkan konflik.
·
Kerjasama, apabila kedua kelompok
bekerja sama untuk memecahkan konflik, maka keduanya akan merasa senang. Kerja sama
dapat dicapai dengan lebih baik melalui faktor-faktor kepemimpinan dan
faktor-faktor organisasional daripada faktor-faktor pribadi.
Keterampilan Khusus
Perawat dapat menggunakan keterampilan
khusus untuk mencegah dan mengatasi konflik.
E.
Hasil
Manajemen Konflik
Manajemen konflik menjaga meluasnya
konflik, membuat kerja lebih produktif, dan dapat membuat konflik sebagai suatu
kekuatan yang positif dan membangun.
Sumber :
Pengantar
Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan, Russel C Swanburg ; editor, Monica
Ester – Jakarta : EGC, 2000.
Jones, R. A. P. (2007), Nursing
Leadership and Management. Theories, Processes, and Practice. F. A.
Davis. Philadephia.
Tappen, R. M.,
Whitehead, D. K., Weiss, S. A. (2010), Essentials of Nursing Leadership and Management. 5th edition. F. A.
Davis. Philadephia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar